TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Sabtu, 02 Mei 2009

Prevalensi Karies Gigi pada Balita Usia 3-5 Tahun

published at Jurnal Medika

Suryawati Sukmono, Tantur Syahdrajat, Tri Handayani, Titiek Resmisari, Sri Wahyuni

Kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari kesehatan badan, ikut berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang. Untuk menilai status kesehatan gigi dapat dilihat dari ada dan tidaknya penyakit gigi, di antaranya karies gigi. Karies gigi adalah penyakit bakterial yang menyerang gigi di mana bagian organik dari gigi mengalami destruksi, sedangkan bagian anorganiknya mengalami dekalsifikasi.1 Karies gigi merupakan penyakit gigi yang paling banyak ditemukan, meliputi semua usia dan lapisan masyarakat yang jika tidak diketahui sejak dini dan dibiarkan berlanjut dapat menjadi lebih parah. Selain itu, timbul pula komplikasi yang serius berupa penyakit ginjal, jantung, syaraf, dan sebagainya.2
Anak balita merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya cukup besar dan memiliki prevalensi karies gigi yang cukup tinggi, Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan pada Pelita III dan IV menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80%, dan 90% di antaranya adalah anak-anak.7 Penelitian Taverud menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak berusia satu tahun sebesar 5%, anak usia dua tahun sebesar 10%, anak usia tiga tahun sebesar 40%, anak usia empat tahun 55%, dan anak usia lima tahun sebesar 75%. Penelitian Rinaldi (1985) terhadap 3450 anak TK di Yogyakarta menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi sebesar 85%, 45% pada balita perempuan dan 40% pada balita laki-laki.3

Masa anak, khususnya balita, merupakan awal dari pembentukan perilaku. Masa balita adalah masa usia yang paling rentan terhadap berbagai pengaruh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar diri sang anak. Tidak mengherankan apabila mereka cukup rentan mengalami perubahan status kesehatan, termasuk di dalamnya kesehatan gigi. Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan gigi pada anak semestinya melibatkan interaksi berbagai pihak, yang dalam hal ini, anak itu sendiri, orang-tua, dan dokter. Pengetahuan, sikap, dan periiaku dari seluruh komponen tersebut mempengaruhi status kesehatan gigi anak. Pada anak-anak, pengaruh dari orangtua sangat kuat. Sikap dan perilaku orangtua, terutama ibu, dalam pemeliharaan gigi memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap sikap dan perilaku anak.3
Di samping itu, perilaku anak sendiri menentukan status kesehatan gigi mereka, termasuk pola makan dan kebiasaan membersihkan gigi. Pada umumnya, anak sangat menggemari makanan yang manis seperti gulali, permen, dan coklat yang diketahui sebagai substrat yang disukai oleh bakteri untuk berkembang biak. Makanan tersebut tergolong kariogenik yang dapat diubah menjadi asam oleh bakteri dan selanjutnya dapat melarutkan struktur gigi.4,5,6 Keadaan ini diperburuk lagi dengan kemalasan anak membersihkan giginya atau anak belum mampu melakukannya, serta ketergantungan anak kepada orangtuanya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun dan faktor yang mempengaruhinya.
Metode
Desain penelitian ini adalah deskriptif cross sectional. Waktu pelaksanaannya pada minggu IV September sampai minggu I Oktober 2003. Popuiasi penelitian adalah semua ibu beserta anak baiitanya yang berusia 3-5 tahun yang bertempat tinggal di Desa Sawah, Kecamatan Ciputat dan Kelurahan Cilandak Timur, Kecamatan Pasar Minggu. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode total sampling terhadap ibu beserta anak balitanya yang berusia 3-5 tahun. Kriteria inklusi adalah ibu beserta anak balitanya yang berusia 3-5 tahun yang bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah ibu yang tidak bersedia mengikuti penelitian. Sampel yang diperoleh sebanyak 82 ibu beserta balitanya. Pengumpulan data diperoleh dengan cara melakukan pemeriksaan fisik gigi pada balita berdasarkan batasan operasional karies gigi, yakni kelainan gigi yang memenuhi salah situ kriteria decay menurut DMFT WHO: yaitu (1) Kerusakan jaringan keras gigi yang secara klinis tampak sebagai lesi pada ceruk dan fisura dan pada permukaan gigi yang halus; (2) Terlihat perubahan warna pada ceruk dan fisura. Bila diraba dengan sonde terasa lunak dan tampak terlihat debris pada ujung sonde setelah diangkat; (3) Gigi dengan tumpatan sementara.7 Diagnosis karies gigi ditegakkan dengan pemeriksaan gigi secara visual (inspeksi) dan pemeriksaan menggunakan beberapa alat bantu seperti sonde." Selanjutnya, dilakukan wawancara pada ibu balita dengan menggunakan kuesioner yang diiakukan di Bina Keluarga Balita, Posyandu, ataupun pada saat kunjungan ke rumah responden. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik balita berdasarkan usia dan jenis kelamin, prevalensi karies gigi, karakteristik sosiodemografi responden, pengetahuan, sikap dan perilaku responden, serta perilaku balita. Selain itu, dilakukan pula penilaian pada pola konsumsi makanan seperti permen, biskuit, dan sirop. Data dianalisis menggunakan uji statistik kemaknaan Chi Square dan Fischer.

Hasil
Karakteristik Balita dan Prevaiensi Karies dgi pada Balita
Prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun sebesar 81,7% (tabel 1). Prevalensi tertinggi terdapat pada balita perempuan (58,2%) dan balita berusia 4 tahun (59,7%) (Tabel 2). Prevalensi karies gigi menurut kelompok usianya, usia 3 tahun 14/20 (60%), usia 4 tahun 34/40 (85%), dan usia 5 tahun 19/22 (86,4%).

Karakteristik Sosiodemografi Responden
Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar ibu balita berusia antara 20-29 tahun, berpendidikan rendah sampai menengah, tidak bekerja di luar rumah, memiliki anak dua atau kurang, dan memiliki pendapatan lebih besar dari lima ratus ribu rupiah (Tabel 3). Dari lima variabel bebas karakteristik demografi yang dipikirkan memiliki hubungan dengan prevaiensi karies gigi, hanya pekerjaan yang memiliki hubungan bermakna (Tabel 4).
Sebagian besar responden (85,4%) pernah mendapatkan informasi mengenai kesehatan gigi. Sumber informasi yang paling berkesan menurut sebagian besar responden (58,6%) adalah televisi (Tabel 5). Pernah tidaknya ibu mendapat informasi mengenai kesehatan gigi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian karies gigi.

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Responden
Dari Tabel 6 terlihat bahwa 76,8% responden memiliki pengetahuan yang kurang dan 89% responden memiliki perilaku yang kurang. Sedangkan sikap sebagian besar responden baik (84,l%). Pertanyaan pengetahuan tentang kebiasaan buruk penyebab karies gigi dijawab benar oleh 68,3% responden. Pertanyaan tentang usia balita sebaiknya berhenti menggunakan susu botol banyak dijawab salah (84,1%). Sedangkan pertanyaan tentang frekuensi balita menggosok gigi dijawab benar oleh 56,1% responden. Sebagian besar responden (79,3%) menyatakan tidak pernah memeriksakan gigi anaknya ke dokter gigi. Sedangkan dari 20,7% ibu yang yang pernah, hanya separuhnya (53%) yang bertujuan untuk kontrol gigi. Sebanyak 56,1% ibu membantu pada saat anaknya menggosok gigi. Dari uji statistik didapatkan hubungan yang bermakna (p<0,05)>

9 komentar:

SETYA WARDANI mengatakan...

kalo di Kalbar indeks DMFt nya tinggi banget sampe 6 mungkin.Memprihatinkanlah pokoknya.Sampe2 pada suatu pertemuan ada kepala dinas yg bilang bahwa putra Kalbar bisa2 akan tersisih dari lapangan pekerjaan hanya krn masalah gigi.gmn mau jd pilot,ABRI,polri,atau aparatur negara kalo ompong???!! yah walaupun bukan itu satu2 cita2....kasian krn PEMDAnya kurang ada perhatian.

www.balitopholidays.com mengatakan...

haloo...
permisi pak, numpang promo nih ^^!
salam kenal dari Bali.

tantursyah mengatakan...

@mba dani: moga dg intensifnya pnyuluhn yg suda mba berikn, ke depannya mmbaik.
@balitopholidays: silakan..

Andri Journal mengatakan...

Penelitiannya dilakukan tahun 2003 ya? Berarti pas sampeyan masih menjadi mahasiswa kedokteran dong. :)

tantursyah mengatakan...

@dr. Andri: iya ni dok, baru skrg2 kepost-nya, dulu blm ngeh ttg blog :)

SETYA WARDANI mengatakan...

penyuluhan saja belum tentu merubah pola pikir apalagi merubah prilaku...harus ada yang namanya management of risk (manajemen faktor resiko) kapan2 saya tulis ya...dan semuanya butuh biaya...kalo didaerah kendalanya BEA itu tadi.after all pemdanya belum cukup melek pentingnya kesehatan gigi krn bukan penyakit yang mematikan mungkin... :)
kesehatan gigi itukan mahal juga biayanya.jd belom merupakan prioritas.

tantursyah mengatakan...

@mba dani: iya mba, bole mba mmposting ttg management of risk :) moga dpt mjadi kontribusi yg brharga ke depannya..

feria gita mengatakan...

pak tantur. . .mohon maaf sebelumnya. saya seorang mahasiswi yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi. beberapa waktu yang lalu saya sudah membaca blog bapak tentang karies gigi. saya minta bantuan tentang referensi yang berkaitan dengan karies gigi tersebut. terimakasih. . .

berkarya merajut harapan mengatakan...

@gita:
daftar pustaka
1. newbrun. cariology. Chicago: Quintessence, 1989. p.29-124
2. agus a. prevalensi karies dentis+indeks def?DMF pada siswa SD SLTP dan SLTA di kodya bandung. MKB 1999; 31:39-43
3. herlianti a. laporan kegiatan kepaniteraan klinik IKGM-P. jakarta: FKG ui; 2003
4. husin s. peran nutrisi dalam virulensi karies dentis. MKS 2000;4:33-7
5. goepferd SJ, Godoy FG. Prventive oral helath in early childhood. In: harris NO, Godoy FG, eds. primary prventive dentistry. Connecticut: appleton& lange; 1999/ p 455-68
6. reich E, lussi a, newburn e. caries-risk assesment. IDJ 1999; 49:15-26
7. koch g. meeder t. poulsen s, rasmussen P. pedondotic and clinical approach. denmark: PJ schmidt vojens; 1991. p 110-2
8. wibowo D. survey dasar kesehatan gigi dan mulut. jakarta: depkes 1992
9. kusumaningsih t. rahardjo MB. peningkatan cara mnegatasi terjadinya karies gigi sehubungan dengan pola makan anak TK di kecamatan kempenan kodya surabaya. JKGUI 2000; 7: 87-92
10. untoro EG. kontribusi pengetahuan dan sikap ibu mengenai kesehatan gigi terhadap kejadian karies gigi anak usia prasekolah di kecamatan sukmajaya depok 2002. skripsi. jakarta: FKG UI; 2002
11. gabrovsek J. dental caries: adent on dogma . www.priory.com/den/caries03.htm
12. widodo sd. pengaruh cara memberi makan dengan karies gigi pada anak balita. JKGUI 1995;7:32-6
13. blinkhorn AS. mackie IC.practical treatment planning for the paedodontic patient. chicago: quintessence. 1992.
tks.

 

blogger templates | Make Money Online