TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Kamis, 14 Agustus 2014

Pengaruh Text Messaging terhadap Literasi Anak




Literasi didefinisikan sebagai “the condition or quality of being literate, especially the ability to read and write” (The American Heritage Dictionary of the English Language). Definisi lain adalah “the quality or state of being literate, especially the ability to read and write” (dictionary.reference.com).
Keterampilan literasi merupakan semua keterampilan yang diperlukan untuk membaca dan menulis (Bainbridge). Hal ini termasuk kesadaran akan bunyi bahasa, kesadaran akan bahan bacaan serta hubungan huruf dan bunyi. Keterampilan literasi lainnya termasuk kosa kata, ejaan dan pemahaman.
Being literate is at the heart of learning in every subject area. Being literate is necessary for learning (Principles for Learning). “Literacy opens doors – It allows us to express our thoughts and to make sense of the world around us. Teaching children to be literate gives them a gift they’ll have for the rest of their lives!” (Amy MacRae).

Literasi dan Text Messaging
Dalam perkembangannya di era sekarang, literasi dipengaruhi oleh adanya perkembangan media baru, khususnya dengan keberadaan smartphone, ipad, tablet dan laptop. Satu cara pemanfaatan media baru adalah penggunaan text messaging yang mengalami peningkatan pesat termasuk oleh anak-anak.
Text messaging yang mencakup short messaging systems (SMS) dan instant messaging (IM), merupakan bentuk baru dari bahasa tulis. SMS merupakan pertukaran pesan teks melalui ponsel. IM merupakan pertukaran pesan teks secara online baik menggunakan aplikasi internet maupun social media
Text messaging  atau disebut juga sebagai textese yang digambarkan sebagai hibrid dari bahasa lisan dan tulisan, merupakan bentuk ejaan yang didominasi fonologis (berbasis suara) (Leung dalam Bushnell dkk., 2011). Kinzer (dalam Johnson, 2012) menyatakan literasi sedang didefinisikan ulang sebagai akibat dari penggunaan media digital.
Dalam bahasa text messaging, konvensi ejaan standar dan aturan tata bahasa seringkali diabaikan dan penggunaan textism adalah hal yang lazim (Verheijen, 2013). Ini berfungsi sebagai jalan pintas untuk menghemat waktu menulis, menghemat ruang karena ada batasan 160-karakter pesan teks, kecilnya layar serta keypad alfanumerik dengan beberapa huruf untuk tiap tombol.
Fenomena text messaging dapat mencakup jenis-jenis textism seperti singkatan, inisial, pemendekan, homofon huruf/angka, lambang emoticon, penghilangan tanda baca/huruf kapital, tanda baca/huruf kapital berlebihan, pengulangan huruf, menggayakan aksen, ataupun neologism (Verheijen, 2013).
Umberto Eco (dalam Turlow & Poff) menyatakan bahwa kita hidup di era dimana sesuatu yang ringkas dan sederhana menunjukkan hal berharga dalam komunikasi. Singkatnya, pesan pendek melambangkan hal tersebut. Dan seperti teknologi komunikasi pendahulu, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran dan harapan, mengingat perkembangan teknologi baru dapat memiliki pengaruh kultural, sosial dan psikologis.
Bagaimanapun meningkatnya fenomena text messaging telah memicu kekhawatiran akan pengaruh text messaging terhadap keterampilan literasi konvensional pada anak (Verheijen, 2013). Anak-anak belajar menulis konvensional di sekolah, pada saat bersamaan mereka juga belajar menulis text-message. Text messaging dikhawatirkan mempengaruhi kualitas tulisan siswa apabila mereka membawa bahasa ringkas ke dalam kelas. Paparan terhadap text messaging dikhawatirkan dapat mempengaruhi literasi.

Penelitian Terdahulu
Berkenaan dengan pengaruh text messaging terhadap literasi, terdapat sejumlah penelitian terkait khususnya untuk meningkatkan kepedulian kemungkinan efek text messaging pada keterampilan literasi pada anak.
Studi Plester, Wood dan Bell menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara proporsi textism yang digunakan dengan skor penalaran verbal dan skor ejaan (Bushnell dkk., 2011). Studi Plester, Wood and Joshi menunjukkan hubungan positif antara pengetahuan textism anak-anak dengan penilaian literasi yang mencakup tes kesadaran fonologi, kosakata, dan memori jangka pendek (Johnson, 2012).
Plester dkk. mengajukan beberapa penjelasan yang mungkin terkait hubungan positif antara texting dengan keterampilan literasi (Bushnell dkk., 2011). Salah satunya adalah texting hanya cara lain untuk meningkatkan paparan kata-kata tertulis, yang merupakan prediktor positif keberhasilan membaca sebagaimana dikemukakan Cipielewski dan Stanovich. Kemungkinan kedua adalah textese memungkinkan anak-anak untuk bermain dengan kata-kata, yang menyebabkan peningkatan keterlibatan dengan mengeja dan membaca tradisional. Terakhir, kreasi textism, yang seringkali berbasis fonologi, dapat meningkatkan kesadaran anak-anak pada aturan terkait bunyi huruf yang diperlukan untuk kemampuan mengeja dan membaca tradisional.
Studi Wood, Jackson, Hart, Plester dan Wilde menunjukkan ada hubungan positif antara penggunaan textism dengan peningkatan mengeja dan keterampilan literasi keseluruhan. Skor mengeja lebih tinggi pada mayoritas anak setelah menggunakan ponsel dan menggunakan textism untuk berkomunikasi (Cooper dkk.). Studi mereka menunjukkan bahwa text messaging tidak berpengaruh negatif terhadap perkembangan keterampilan literasi pada kelompok usia yang diteliti, dan penggunaan textism secara positif terkait dengan peningkatan keterampilan literasi, khususnya mengeja (Johnson, 2012).
Penelitian Bushnell, Kemp dan Martin (2011) menunjukkan bahwa proporsi textism yang dihasilkan secara signifikan berkorelasi positif dengan kemampuan ejaan umum. Hasil studi Johnson (2012) menunjukkan bahwa anak yang mendefinisikan textism dengan benar menunjukkan keterampilan yang lebih dalam kelancaran membaca dan pemahaman kalimat dibanding anak yang tidak dapat mendefinisikan istilah texting umum.

Penutup
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa skor literasi dapat berhubungan dengan frekuensi text messaging, penggunaan textism dan pengetahuan textism. Terkait hal ini, anak-anak dapat diberikan panduan terkait minat pada menulis konvensional dan menulis bentuk baru. Hal ini diharapkan dapat menjembatani keberadaan text messaging pada media baru dengan keterampilan bahasa dan literasi. Sementara dari sisi akademis, untuk lebih menggambarkan hubungan text messaging dengan literasi anak, diperlukan studi lebih lanjut khususnya studi dengan pendekatan eksperimen.

Daftar Pustaka
Bainbridge, C. Literacy skills. Retrieved from www.giftedkids.about.com
Bushnell, C., Kemp, N., Martin, F. H. (2011) Text-messaging practices and links to general spelling skill: A study of Australian children. Australian Journal of Educational & Developmental Psychology, 11, 27-38. Retrieved from www.files.eric.ed.gov
Cooper, S., Doonan, K., Fawcett, N. Enterprising technology: Using 4G technology to improve literacy skills. Retrieved from www.escalate.ac.uk
Dictionary.com. Retrieved from www.dictionary.reference.com
Effects of students’ use of SMS. Retrieved from www.rodolforamirez.pbworks.com
Johnson, G. M. (2012). Comprehension of standard English text and digital textism during childhood. The Internet Journal of Language, Culture and Society. Retrieved from www.aaref.com.au 
Principles for learning. Retrieved from www.ncte.org
Thurlow, C., Poff, M. Text messaging. Retrieved from www.crispinthurlow.net
Verheijen, L. (2013). The effects of text messaging and instant messaging on literacy. English Studies, 94(5), 582-602. Retrieved from www.researchgate.net
What does literacy mean to you? Retrieved from www.weinspirefutures.com
Your Dictionary. Retrieved from www.yourdictionary.com
Selengkapnya...

 

blogger templates | Make Money Online