TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Sabtu, 2009 Juni 27

USB FlashDisk Sandisk Cruzer Micro U3 2GB: Alnect Komputer

USB FlashDisk Sandisk Cruzer Micro mendukung high speed USB 2.0. Anda dapat menyimpan dokumen, gambar, foto, musik, video klip, hingga program. Tidak memerlukan instal driver terlebih dahulu. UFD ini tanpa tutup sehingga tidak khawatir akan kehilangan tutup. Adanya slider pada UFD menjadikan konektor USB dapat didorong ke dalam dan ke luar casing sehingga dapat memproteksi konektor dan mengecilkan ukuran. Ukuran UFD sendiri adalah 71 x 20.4 x 10.1 mm. Sedangkan beratnya 10 gram.
USB FlashDisk Sandisk Cruzer Micro memiliki platform U3 untuk menjalankan aplikasi portabel langsung dari UFD tanpa instal di PC lagi. Sejumlah aplikasi portabel di website U3 antara lain avast, spywarefree, winrar, openoffice, firefox dan foxit reader. Untuk memproteksi akses UFD, dapat dipasang password.
Bagi yang menginginkan UFD simpel, platform U3 dapat diuninstall. Anda juga bisa menggunakan application launcher seperti portableapps. Sejumlah aplikasi portabel di website portableapps di antaranya clamav, firefox, dan oppenoffice. Bagi yang suka ngeblog, bisa menambahkan aplikasi tersendiri seperti wbloggar. Di website portablefreeware terdapat kumpulan aplikasi portabel antara lain foxit reader, PC Wizard dan process explorer.
USB Flashdisk Sandisk Cruzer Micro beroperasi pada suhu 0° hingga 60° C, menyimpan data pada suhu -20° hingga 85° C. UFD ini mensupport Windows, Mac dan Linux. Namun, U3 hanya mendukung Windows saja. Kecepatan menulisnya 8.4 MB/detik. Kecepatan membaca 18.5 MB/detik. Untuk mengukur kecepatan baca tulis UFD bisa menggunakan flash memory toolkit .
USB Flashdisk Sandisk Cruzer Micro 2GB dapat dijumpai online di Alnect Web Store dengan harga Rp. 99.000. Garansi Alnect 30 hari. Garansi standar 1 tahun.
Berikut ini contoh tampilan produk USB FlashDisk Sandisk Cruzer Micro U3 2GB di Alnect Web Store.










Informasi produk tersedia di sini.
Sementara ini, dari 1 Juni-31 Juli 2009 Alnect mengadakan kontes blog untuk mereview produk-produk Alnect. Hadiah yang bisa didapatkan adalah notebook, netbook, kamera digital, modem HSDPA, dan flashdisk 8GB/4GB. Tertarik dapat hadiahnya, silakan klik gambar berikut untuk informasi lebih lengkap.
Alnect computer Blog Contest
Selengkapnya...

Sabtu, 2009 Juni 13

Intoksikasi: Terminum Tiner

Dapet PR dari mas andri, bikin posting tentang kasus tiner, baru keposting sekarang-sekarang.
Panas matahari tampaknya menyengat di desa panga, aceh jaya, pemekaran kabupaten aceh barat. Termasuk dalam puskesmas yang tampak megah dari luar. Mau pake sneli juga gerah. Padahal pagi baru beranjak siang.
Sekonyong2 dateng pengunjung puskesmas ditemani seorang yang lain, nampak agak pucet dan lemes. Ya, ia tadi terminum tiner ketika sedang bekerja di proyek pembangunan rumah tsunami. Karena tiner berada dalam botol plastik air minum. Begitu miripnya dengan air minum, nyaris bgt miripnya klo dibilang. Tanda-tanda vital, tidak berubah secara drastis. Hanya memang kondisinya agak melemah, mungkin karena iritasi ke saluran cerna. Kali pertama kasus ini. Diberikanlah cairan fisiologis RL via infus. Istirahat dulu ya di bed UGD. Nah, apa ada anti tiner? Ni dia, secara referensinya kapita selekta yang ringan dibawa kemana-mana, ga seperti teks book yang berat-berat, yang bikin nambah bagasi. Dikatakan tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah mengatasi keadaan sesuai dengan besarnya masalah. Berhubung ceritanya terminum, dimungkinkan dapat diberikan dekontaminasi saluran cerna agar bahan yang tertelan hanya sedikit di absorpsi. Nah, bila pasien diperiksa segera setelah menelan racun, norit (karbon aktif) yang diberikan per oral mungkin efektif dalam mengurangi beratnya keracunan. Dapetlah norit. Klo di puskesmas kayaknya banyak, seperti cerita mas andri.
Secara ga canggih ya literaturnya, mestinya kan EBM, text book update, jurnal update. Biasanya yg gitu2 tu pabalatak di internet. Secara emang ada ya internet di pedalaman. Kesian ya temen2 yg tugas di pelosok2, palagi yg uda bertahun2. Tapi itulah namanya pengabdian. Di panga aja klo mo browsing boro2 dah. Sinyal telepon aja mesti keluar dari puskesmas. Jalan jauhan dulu, baru nemu sinyal. Tapi ga juga ding, kadang2 yg deket2 juga dapet. Tapi ya gitu 2-3 baris. Ntu dia jadinya susa gprs-an palagi 3G. Klo pun ada, waktu tu juga ga mudeng yg gituan. Ga kaya jaman sekarang uda canggih2 ampe 3.5 G segala. Belum lagi iphone apa blackberry.

Btw, apa sih tiner itu? Tiner yg umum dipake dlm percatan adalah solvent/pelarut untuk mengencerkan cat. Setelah cat dioleskan, tiner akan menguap dan dapat menyebabkan pusing, iritasi mata, hidung dan tenggorokan pada yg ngecat. Ga hanya cat, banyak industri yg pake tiner kayak tekstil, lem, gasolin, karet, plastik dll. Kandungannya ada toluene, sama2 xylene, benzene, acetone, metanol, n-hexane, n-butil asetat, etanol dll. Toluene menyumbang hingga kira2 60-70%. Sifatnya terang, cairan tak berwarna, berbau enak dan tajam. Ini bikin potensial intoksikasi. Intoksikasi kronik tiner pada pekerja yg mengisap uapnya kerap ditemukan. Intoksikasi akut tidak biasa dan efek klinis setelah tertelan relatif tidak diketahui. Dilaporkan bahwa 45-50 ml tiner yg tertelan ckp berakibat komplikasi berat. Toluene yg diabsorpsi akibat menelan tiner dapat menyebabkan insufisiensi kardiak, renal, hepatik, pneumopleurisy, rhabdomyolisis dan polimyositis fulminan pada impak yg luas. Hasil studi 32 kasus tertelan tiner thn 1984-2006 di turki menunjukan bahwa hipertermia, hilang kesadaran temporer, muntah dan batuk tampaknya menjadi gambaran klinis yg sering. Pd kasus tertelan toluene, dpt diberikan arang aktif atau activated charcoal .
Setidaknya itulah yg didapet dr literatur setelah browsing2. Nah, sekarang balik ke cerita internet di pedalaman. Di panga tu paling banter mau ngenet ya ke meulaboh ada sebuah warnet 5000/jam. Kesananya boleh pake motor. Motor trail risikonya mogok di jalan. Motor bebek ada pinjem dulu hehe. Mo naek mobil ada L300. Jalannya, ni dia. Panga-teunom masi ada sisa aspal, lumayan. Lepas teunom, jalannya klo ujan, kebanjiran. klo ga beruntung, mesin mobilnya dimatiin lalu didorong, penumpangnya ada jasa gerobak. Abis tu lewat hutan, jalannya mirip2 tanah gambut. Mobil2 pada kepater. Klo kepater mesti ada yang narik. Selepas hutan lewat arongan, nah ini lumayan kiri kanannya perkampungan. Banyak pohon kelapa tinggi2. Kadang ketemu serombongan kerbau yg pulang kandang. Abis tu ketemu jalan aspal lagi, lalu ketemu jalan pesisir. Susa lagi di sini. Banyak genangan2 air laut. Batang2 kayu penghubung kolam laut banyak rusak. Perna mau mencemplungkan motor supra ke genangan laut yg cukup dalam. Alhamdulillah, ga sampe. Di bagian genangan air tanpa kayu penghubung mesti nyemplung dulu. Lepas laut jalannya berlobang2. Hingga ada bagian jalan klo kebanjiran panjang bener. Mobilnya pun dimatiin didorong dgn penumpang di dalamnya. Jelang meulaboh ketemu hutan lagi. 3 jam nempuh perjalanan gitu. Jadi daripada repot2, mendingan ga, cukup bersama dgn kapsel aja dah hehe.. Lha ini cerita tiner, kok jadi kemana2. Ya suda segitu aja dah, moga aja ada editor majalah ato jurnal yang baca n trtarik mmpublikasikan tulisan ini. Berharap. Secara kan bisa dapet honor.. Ga repot2 dulu ngerapiin tulisannya. Hehe..

Pustaka
Dampak Inhalasi Cat Semprot terhadap Kesehatan Paru
Toluene Toxicity Treatment and Management
Thinner Ingestion Causes Hyperthermia


Selengkapnya...

Rabu, 2009 Mei 20

Klepon: Riwajatmoe Kini

Klepon adalah camilan favoritku jaman kecil dulu. Klo hari pasar tiba di kampungku, hampir selalu nitip beli klepon. Belinya mesti pagi-pagi, soalnya klo siangan dikit uda keabisan. Klepon biasanya ditemani cetil sama putu. Kleponnya tu enak, lembut. Cetilnya kenyal-kenyal. Klo putunya kenyalan dikit. Beda banget ama yang di kota. Biasanya kleponnya ga banyak, 1-2 buah dalam 1 wadah. Klo cetil sama putunya bisa banyak. Mungkin karena bikin klepon susahan, jadi dikit. Padahal tu ya, yang enaknya ya kleponnya itu. Sayangnya, pasarnya sekarang uda lama tutup dan klepon pun tak dijual lagi.
Klepon banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional. Wadahnya dari daun pisang atau dikemas dalam plastik kecil. Hanya saja, sekarang keberadaan klepon sulit ditemui apalagi di kota-kota.
Harganya murah, tapi rasanya enak. Bahannya alamiah dari tepung ketan, kelapa, garam, dan gula jawa. Warna klepon putih atau hijau. Untuk klepon hijau perlu ditambahkan pewarna dari daun suji atau daun pandan. Klepon dibentuk bulet-bulet kecil di dalamnya gula kelapa (gula Jawa), lalu direbus. Disajikan dengan parutan kelapa yang lembut dan cantik. Teksturnya kenyal dan lembut. Kalo kita makan, gula jawanya terus lumer di lidah. Klepon biasa bersama cetil sebagai camilan pagi-pagi.


Selengkapnya...

Minggu, 2009 Mei 17

Hape Nokia N73 dan Internet

Hape candy bar ini layarnya ukuran 2.4 inci (37x49mm) dengan piksel 240x320. Berat 116 g. Nilai SAR 1.12 W/kg. Untuk browsing, ada GPRS 10 (32-48 kbps), EDGE 10 (236.8 kbps), 3G/UMTS (384 kbps). Prosesornya ARMv1024 220 MHz menurut mobitola, ARM9 208 JIT menurut jbenchmark, respon lambat termasuk ketika membuka aplikasi java. Di forum nokia disebutkan maksimal ukuran file java unlimited. Heap size unlimited. SDRAM 64 MB. Maksimal SIS size unlimited. Bisa dipasang kamus inggris-indonesia. Memorinya 42 MB, bisa diupgrade miniSD hingga 2GB. Batere standby 220 jam, waktu bicara 4,5 jam.
Untuk transfer file ada bluetooth, infrared, kabel data CA-70. Transfer data saat terkoneksi PC pada mode USB bisa mencapai 500-850 kbps (review nokia n73). Untuk jadi modem, bisa download Nokia PC Suite. Perna coba, speed modem kabel data yang tertera sekitar 460 kbps. Kalo pingin ngeblog, hp ini mendukung copy paste. Hanya keypadnya cukup berdekatan dan joysticknya kurang nyaman. Maksimal karakter SMS 1000 (7 SMS). Bisa pake mynotes dulu untuk menulis postingan. Untuk picture/video blogging ada lifeblog. Ato bisa pake shozu. Browser bawaan simpel tapi masi enakan opera mini 4.2, bisa untuk mengedit blog juga. Ato opera mini 2.06, lumayan hemat pulsa bila setting image dinonaktifkan, cocok untuk buka email yahoo, gmail, friendster, facebook, blog atopun yahoo messenger. Klo pingin yahoo messenger terpisah bisa pake ymtiny. Di opera mini, alamat web pun bisa dibookmark. Kalo untuk download aplikasi java dengan browser bawaan saja, karena file jar tidak bisa disimpan. Klo pake browser ucweb, download yang keputus bisa dilanjut. Menurut jbenchmark download speednya 341 kbit/s dan upload speed 307 kbit/s. Hasil download file zip bisa diekstrak dengan jzipman dan file rar dengan mobilerar. Suda punya aplikasi document dan pdf viewer. Klo pingin nulis excel ada mini excel. Untuk mengoptimalkan memori hape saat browsing dengan aplikasi java, bisa pake memory manager, memoryup, cpumobile, autoheap, ato heap clearer.
Bisa multitasking. ga bisa bluetooth kontrol dan kabel datanya ga bisa sekalian ngecharge.




Selengkapnya...

Sabtu, 2009 Mei 02

Prevalensi Karies Gigi pada Balita Usia 3-5 Tahun

published at Jurnal Medika

Suryawati Sukmono, Tantur Syahdrajat, Tri Handayani, Titiek Resmisari, Sri Wahyuni

Kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari kesehatan badan, ikut berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang. Untuk menilai status kesehatan gigi dapat dilihat dari ada dan tidaknya penyakit gigi, di antaranya karies gigi. Karies gigi adalah penyakit bakterial yang menyerang gigi di mana bagian organik dari gigi mengalami destruksi, sedangkan bagian anorganiknya mengalami dekalsifikasi.1 Karies gigi merupakan penyakit gigi yang paling banyak ditemukan, meliputi semua usia dan lapisan masyarakat yang jika tidak diketahui sejak dini dan dibiarkan berlanjut dapat menjadi lebih parah. Selain itu, timbul pula komplikasi yang serius berupa penyakit ginjal, jantung, syaraf, dan sebagainya.2
Anak balita merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya cukup besar dan memiliki prevalensi karies gigi yang cukup tinggi, Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan pada Pelita III dan IV menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80%, dan 90% di antaranya adalah anak-anak.7 Penelitian Taverud menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak berusia satu tahun sebesar 5%, anak usia dua tahun sebesar 10%, anak usia tiga tahun sebesar 40%, anak usia empat tahun 55%, dan anak usia lima tahun sebesar 75%. Penelitian Rinaldi (1985) terhadap 3450 anak TK di Yogyakarta menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi sebesar 85%, 45% pada balita perempuan dan 40% pada balita laki-laki.3

Masa anak, khususnya balita, merupakan awal dari pembentukan perilaku. Masa balita adalah masa usia yang paling rentan terhadap berbagai pengaruh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar diri sang anak. Tidak mengherankan apabila mereka cukup rentan mengalami perubahan status kesehatan, termasuk di dalamnya kesehatan gigi. Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan gigi pada anak semestinya melibatkan interaksi berbagai pihak, yang dalam hal ini, anak itu sendiri, orang-tua, dan dokter. Pengetahuan, sikap, dan periiaku dari seluruh komponen tersebut mempengaruhi status kesehatan gigi anak. Pada anak-anak, pengaruh dari orangtua sangat kuat. Sikap dan perilaku orangtua, terutama ibu, dalam pemeliharaan gigi memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap sikap dan perilaku anak.3
Di samping itu, perilaku anak sendiri menentukan status kesehatan gigi mereka, termasuk pola makan dan kebiasaan membersihkan gigi. Pada umumnya, anak sangat menggemari makanan yang manis seperti gulali, permen, dan coklat yang diketahui sebagai substrat yang disukai oleh bakteri untuk berkembang biak. Makanan tersebut tergolong kariogenik yang dapat diubah menjadi asam oleh bakteri dan selanjutnya dapat melarutkan struktur gigi.4,5,6 Keadaan ini diperburuk lagi dengan kemalasan anak membersihkan giginya atau anak belum mampu melakukannya, serta ketergantungan anak kepada orangtuanya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun dan faktor yang mempengaruhinya.
Metode
Desain penelitian ini adalah deskriptif cross sectional. Waktu pelaksanaannya pada minggu IV September sampai minggu I Oktober 2003. Popuiasi penelitian adalah semua ibu beserta anak baiitanya yang berusia 3-5 tahun yang bertempat tinggal di Desa Sawah, Kecamatan Ciputat dan Kelurahan Cilandak Timur, Kecamatan Pasar Minggu. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode total sampling terhadap ibu beserta anak balitanya yang berusia 3-5 tahun. Kriteria inklusi adalah ibu beserta anak balitanya yang berusia 3-5 tahun yang bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah ibu yang tidak bersedia mengikuti penelitian. Sampel yang diperoleh sebanyak 82 ibu beserta balitanya. Pengumpulan data diperoleh dengan cara melakukan pemeriksaan fisik gigi pada balita berdasarkan batasan operasional karies gigi, yakni kelainan gigi yang memenuhi salah situ kriteria decay menurut DMFT WHO: yaitu (1) Kerusakan jaringan keras gigi yang secara klinis tampak sebagai lesi pada ceruk dan fisura dan pada permukaan gigi yang halus; (2) Terlihat perubahan warna pada ceruk dan fisura. Bila diraba dengan sonde terasa lunak dan tampak terlihat debris pada ujung sonde setelah diangkat; (3) Gigi dengan tumpatan sementara.7 Diagnosis karies gigi ditegakkan dengan pemeriksaan gigi secara visual (inspeksi) dan pemeriksaan menggunakan beberapa alat bantu seperti sonde." Selanjutnya, dilakukan wawancara pada ibu balita dengan menggunakan kuesioner yang diiakukan di Bina Keluarga Balita, Posyandu, ataupun pada saat kunjungan ke rumah responden. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik balita berdasarkan usia dan jenis kelamin, prevalensi karies gigi, karakteristik sosiodemografi responden, pengetahuan, sikap dan perilaku responden, serta perilaku balita. Selain itu, dilakukan pula penilaian pada pola konsumsi makanan seperti permen, biskuit, dan sirop. Data dianalisis menggunakan uji statistik kemaknaan Chi Square dan Fischer.

Hasil
Karakteristik Balita dan Prevaiensi Karies dgi pada Balita
Prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun sebesar 81,7% (tabel 1). Prevalensi tertinggi terdapat pada balita perempuan (58,2%) dan balita berusia 4 tahun (59,7%) (Tabel 2). Prevalensi karies gigi menurut kelompok usianya, usia 3 tahun 14/20 (60%), usia 4 tahun 34/40 (85%), dan usia 5 tahun 19/22 (86,4%).

Karakteristik Sosiodemografi Responden
Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar ibu balita berusia antara 20-29 tahun, berpendidikan rendah sampai menengah, tidak bekerja di luar rumah, memiliki anak dua atau kurang, dan memiliki pendapatan lebih besar dari lima ratus ribu rupiah (Tabel 3). Dari lima variabel bebas karakteristik demografi yang dipikirkan memiliki hubungan dengan prevaiensi karies gigi, hanya pekerjaan yang memiliki hubungan bermakna (Tabel 4).
Sebagian besar responden (85,4%) pernah mendapatkan informasi mengenai kesehatan gigi. Sumber informasi yang paling berkesan menurut sebagian besar responden (58,6%) adalah televisi (Tabel 5). Pernah tidaknya ibu mendapat informasi mengenai kesehatan gigi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian karies gigi.

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Responden
Dari Tabel 6 terlihat bahwa 76,8% responden memiliki pengetahuan yang kurang dan 89% responden memiliki perilaku yang kurang. Sedangkan sikap sebagian besar responden baik (84,l%). Pertanyaan pengetahuan tentang kebiasaan buruk penyebab karies gigi dijawab benar oleh 68,3% responden. Pertanyaan tentang usia balita sebaiknya berhenti menggunakan susu botol banyak dijawab salah (84,1%). Sedangkan pertanyaan tentang frekuensi balita menggosok gigi dijawab benar oleh 56,1% responden. Sebagian besar responden (79,3%) menyatakan tidak pernah memeriksakan gigi anaknya ke dokter gigi. Sedangkan dari 20,7% ibu yang yang pernah, hanya separuhnya (53%) yang bertujuan untuk kontrol gigi. Sebanyak 56,1% ibu membantu pada saat anaknya menggosok gigi. Dari uji statistik didapatkan hubungan yang bermakna (p<0,05)>
Selengkapnya...

 

Album

Arsip

Blogger

blogger templates | Make Money Online